Merespons RDP Panja SPMB Komisi X DPR RI: PTN Makin Besar, PTS Daerah Makin Tertinggal

Merespons RDP Panja SPMB Komisi X DPR RI: PTN Makin Besar, PTS Daerah Makin Tertinggal
Transformasi Pemasaran dan Branding Digital Kampus Dibutuhkan.

Jakarta - Komisi X DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panja Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada 4 Juni 2026, mendengar langsung aspirasi dari 5 LLDIKTI yang membentang dari Jakarta hingga Papua. Hasilnya mencengangkan: dari barat sampai timur, masalahnya sama - pendaftar kampus swasta terus turun, sementara sistem yang berlaku belum berpihak pada daerah.

Sistem penerimaan mahasiswa baru yang diterapkan seragam di seluruh Indonesia dinilai tidak mempertimbangkan kondisi tiap daerah yang jauh berbeda. Perguruan tinggi swasta (PTS) menghadapi tekanan berlapis: jalur mandiri PTN menyerap hingga 50% kursi dan membuat calon mahasiswa menunda memilih PTS, proses seleksi PTN yang panjang menyulitkan PTS menyusun strategi penerimaan, PTS kecil menanggung beban biaya operasional dan akreditasi tanpa dukungan setara BOPTN, sementara banyak pemerintah daerah yang ingin membantu kampus swasta namun belum memiliki dasar hukum yang jelas.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Himmatul Aliyah, menegaskan perlunya kebijakan afirmasi yang konkret. “Pemerintah harus mengeluarkan kebijakan afirmasi, perluasan kuota dan peningkatan nilai KIP Kuliah agar lebih efektif tiap daerah. Batas waktu jalur mandiri harus hitam putih, tertulis jelas, bukan hanya lisan. Dan peluang afirmasi PTS daerah masuk RUU Sisdiknas cukup besar karena kita satu suara,” tegasnya.

Anggota Komisi X DPR RI, Denny Cagur, menambahkan bahwa persoalan PTS tidak berhenti pada soal jumlah mahasiswa, tetapi juga relevansi. “Bagaimana LLDIKTI mengarahkan PTS agar kurikulum dan prodi mereka lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang hype,” ujarnya.

Solusi yang Didorong DPR

Komisi X DPR RI mendorong empat langkah perbaikan konkret: memperluas kuota KIP Kuliah terutama bagi mahasiswa di PTS; meningkatkan nilai bantuan KIP Kuliah agar mahasiswa mampu mengakses program studi STEM dan kedokteran yang berbiaya lebih tinggi; menetapkan batas waktu jalur mandiri PTN secara tertulis agar tidak mengganggu penerimaan mahasiswa di PTS; serta mengakomodasi peran pemerintah daerah dalam membantu operasional perguruan tinggi melalui RUU Sisdiknas.

Transformasi Pemasaran Digital Kampus: Solusi yang Tidak Bisa Ditunda

Di tengah tekanan sistemik yang dihadapi PTS, Dr. (Cand.) Yaser Arafat, S.M., M.M., CEO PT. Digital Kreatif Pro — Digital Marketing Consulting Pertama di Indonesia untuk Institusi Pendidikan Tinggi Swasta, sekaligus Founder CariKampusCariKerja, merespons hasil RDP tersebut dengan perspektif yang berbasis data dan riset ilmiah.

Sambil menunggu kebijakan pemerintah yang tengah diperjuangkan melalui RDP tersebut, Yaser menegaskan bahwa kampus swasta tidak bisa berdiam diri. Riset yang ia lakukan membuktikan fakta yang tidak bisa diabaikan:

“66% keputusan Generasi Z dalam memilih perguruan tinggi swasta ditentukan oleh seberapa kuat kehadiran digital sebuah kampus dan digital marketing adalah prediktor terkuatnya. Yang lebih mengejutkan, brand image konvensional justru berpengaruh negatif. Kampus yang hanya mengandalkan reputasi lama tanpa transformasi digital akan semakin ditinggalkan Generasi Z. Apa yang disuarakan DPR soal ketimpangan sistem penerimaan mahasiswa adalah alarm yang nyata dan selain kebijakan, kampus swasta juga harus memastikan kehadiran digitalnya yang kuat. Karena justru di sinilah gap terbesar antara PTS dan Generasi Z selama ini terjadi. Data membuktikan, transformasi digital bukan lagi opsi bagi PTS, melainkan keharusan.” Dr. (Cand.) Yaser Arafat, S.M., M.M. CEO PT. Digital Kreatif Pro Digital Marketing Consulting Pertama di Indonesia untuk Institusi Pendidikan Tinggi Swasta, sekaligus Founder CariKampusCariKerja

Yaser menambahkan bahwa 82% calon mahasiswa kini mencari informasi kampus melalui platform digital, namun baru 35% PTS yang telah mengimplementasikan strategi digital marketing secara serius. Gap yang besar ini, menurutnya, bukan sekadar persoalan teknologi melainkan persoalan keberlangsungan institusi.

Strategi Digital Marketing 360 Derajat untuk PTS

Menurut Yaser, transformasi digital marketing bagi PTS tidak cukup hanya hadir di satu kanal. Dibutuhkan pendekatan menyeluruh yang ia sebut Digital Marketing 360 Derajat. sebuah ekosistem strategi yang saling menguatkan. Kehadiran aktif di media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan YouTube menjadi pintu pertama Gen Z mengenal sebuah kampus, didukung website yang informatif, cepat, dan mobile-friendly sebagai cerminan kualitas institusi. Di sisi pengelolaan prospek, Edu CRM memastikan tidak ada satu pun calon mahasiswa yang hilang di tengah perjalanan dari pertama kali mereka menunjukkan ketertarikan hingga hari pertama kuliah. SEO dan digital advertising melengkapi ekosistem ini dengan memastikan kampus ditemukan oleh audiens yang tepat di waktu yang tepat.

Yang menyempurnakan ekosistem Digital Marketing 360 Derajat ini adalah edu marketplace sebuah platform yang memungkinkan PTS hadir secara aktif di hadapan ribuan calon mahasiswa yang sedang dalam proses mencari kampus. Bukan lagi menunggu ditemukan, melainkan aktif menjangkau. Dan inilah yang melahirkan CariKampusCariKerja.

CariKampusCariKerja: Edu-Marketplace Pertama di Indonesia

CariKampusCariKerja bukan lahir dari ide semata. Platform ini dibangun melalui riset dan inovasi digital marketing kampus yang mendalam, menjawab secara langsung tantangan nyata yang dihadapi PTS dalam menarik dan menjangkau calon mahasiswa baru di era digital. Dengan pendekatan edu marketplace, CariKampusCariKerja menawarkan strategi pemasaran yang terstruktur dan berbasis data mempertemukan PTS dengan calon mahasiswa yang tepat melalui fitur Tes Minat Bakat berbasis AI yang memetakan minat, bakat, dan rekomendasi jurusan setiap calon mahasiswa secara personal.

CariKampusCariKerja hadir sebagai jembatan nyata yang menghubungkan siswa, kampus, dan industri dalam satu ekosistem digital yang terintegrasi memastikan perjalanan pendidikan setiap generasi muda Indonesia tidak berhenti di bangku kuliah, tetapi berlanjut hingga dunia kerja.

“Kami terus berkomitmen untuk berkontribusi nyata bagi pendidikan Indonesia memastikan setiap kampus swasta memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, dan setiap generasi muda Indonesia mendapatkan akses pendidikan serta karir yang layak,” ujar Yaser Arafat, konsultan digital marketing untuk institusi pendidikan tinggi swasta.